PPK LEMAHABANG

Panitia Pemilihan Kecamatan Lemahabang. Pelaksana Tahapan Penyelenggaraan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Karawang Tahun 2010.

MAKAM SYECH QURO

Lokasi Wisata Religius, Makam Syech Quro di Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang, dikunjungi oleh Peziarah dari berbagai kota terutama pada setiap malam Sabtu, hingga di kenal dengan sebutan Saptuan.

MANG AJAT

Punggawa Blog ini, Akun Facebook Ajat Apana Gin's dengan trademark (Aya..... Aya..... Wae.....) pada setiap penutup update statusnya.

TANAMAN PADI

Lahan pertanian yang luas, Padi yang bernas, hasil yang melimpah, tapi mengapa swasembada pangan hanya ada dalam impian indah yang disodorkan oleh para pejabat tinggi, hingga harga beras melambung tinggi.

ANGEUN OSKADON

Lauk pauk tradisional alternatif, dengan olahan dan bumbu sederhana menjadikan sayur ini sangat menggugah selera, masyarakat di wilayah utara Karawang -Rengasdengklok dan sekitarnya menyebutnya dengan Angeun Oskadon.

Kamis, 30 September 2010

PARTAI KOMUNIS INDONESIA

Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai politik di Indonesia yang berideologi komunis. Dalam sejarahnya, PKI pernah berusaha melakukan pemberontakan melawan pemerintah kolonial Belanda pada 1926, mendalangi pemberontakan PKI Madiun pada tahun 1948 dan dicap oleh rezim Orde Baru ikut mendalangi insiden G30S pada tahun 1965. Namun tuduhan dalang PKI dalam pemberontakan tahun 1965 tidak pernah terbukti secara tuntas, dan masih dipertanyakan seberapa jauh kebenaran tuduhan bahwa pemberontakan itu didalangi PKI. Sumber luar memberikan fakta lain bahwa PKI tahun 1965 tidak terlibat, melainkan didalangi oleh Soeharto (dan CIA). Hal ini masih diperdebatkan oleh golongan liberal, mantan anggota PKI dan beberapa orang yang lolos dari pembantaian anti PKI. Setidaknya lebih dari lima teori berusaha mengungkap kejadian tersebut. Namun teori-teori yang terkadang saling berlawanan menjadikanya diskusi besar sampai hari ini.

Sebelum Revolusi Indonesia
Gerakan Awal PKI

Partai ini didirikan atas inisiatif tokoh sosialis Belanda, Henk Sneevliet pada 1914, dengan nama Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) (atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda). Keanggotaan awal ISDV pada dasarnya terdiri atas 85 anggota dari dua partai sosialis Belanda, yaitu SDAP (Partai Buruh Sosial Demokratis) dan SDP (Partai Sosial Demokratis), yang aktif di Hindia Belanda [1]

Pada Oktober 1915 ISDV mulai aktif dalam penerbitan dalam bahasa Belanda, “Het Vrije Woord” (Kata yang Merdeka). Editornya adalah Adolf Baars.

Pada saat pembentukannya, ISDV tidak menuntut kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu, ISDV mempunyai sekitar 100 orang anggota, dan dari semuanya itu hanya tiga orang yang merupakan warga pribumi Indonesia. Namun demikian, partai ini dengan cepat berkembang menjadi radikal dan anti kapitalis. Di bawah pimpinan Sneevliet partai ini merasa tidak puas dengan kepemimpinan SDAP di Belanda, dan yang menjauhkan diri dari ISDV. Pada 1917, kelompok reformis dari ISDV memisahkan diri dan membentuk partainya sendiri, yaitu Partai Demokrat Sosial Hindia.

Pada 1917 ISDV mengeluarkan penerbitannya sendiri dalam bahasa Melayu, “Soeara Merdeka”.

Di bawah kepemimpinan Sneevliet, ISDV yakin bahwa Revolusi Oktober seperti yang terjadi di Rusia harus diikuti Indonesia. Kelompok ini berhasil mendapatkan pengikut di antara tentara-tentara dan pelaut Belanda yang ditempatkan di Hindia Belanda. Dibentuklah “Pengawal Merah” dan dalam waktu tiga bulan jumlah mereka telah mencapai 3.000 orang. Pada akhir 1917, para tentara dan pelaut itu memberontak di Surabaya, sebuah pangkalan angkatan laut utama di Indonesia saat itu, dan membentuk sebuah dewan soviet. Para penguasa kolonial menindas dewan-dewan soviet di Surabaya dan ISDV. Para pemimpin ISDV dikirim kembali ke Belanda, termasuk Sneevliet. Para pemimpin pemberontakan di kalangan militer Belanda dijatuhi hukuman penjara hingga 40 tahun.

ISDV terus melakukan kegiatannya, meskipun dengan cara bergerak di bawah tanah. Organisasi ini kemudian menerbitkan sebuah terbitan yang lain, Soeara Ra’jat. Setelah sejumlah kader Belanda dikeluarkan dengan paksa, ditambah dengan pekerjaan di kalangan Sarekat Islam, keanggotaan organisasi ini pun mulai berubah dari mayoritas warga Belanda menjadi mayoritas orang Indonesia. Pada 1919, ISDV hanya mempunyai 25 orang Belanda di antara anggotanya, dari jumlah keseluruhan kurang dari 400 orang anggota.

Pembentukan Partai Komunis
Pada awalnya PKI adalah gerakan yang berasimilasi ke dalam Sarekat Islam. Keadaan yang semakin parah dimana ada perselisihan antara para anggotanya, terutama di Semarang dan Yogyakarta membuat Sarekat Islam melaksanakan disiplin partai. Yakni melarang anggotanya mendapat gelar ganda di kancah perjuangan pergerakan indonesia. Keputusan tersebut tentu saja membuat para anggota yang beraliran komunis kesal dan keluar dari partai dan membentuk partai baru yang disebut ISDV. Pada Kongres ISDV di Semarang (Mei 1920), nama organisasi ini diubah menjadi Perserikatan Komunis di Hindia. Semaoen diangkat sebagai ketua partai.

PKH adalah partai komunis pertama di Asia yang menjadi bagian dari Komunis Internasional. Henk Sneevliet mewakili partai ini pada kongresnya kedua Komunis Internasional pada 1920.

Pada 1924 nama partai ini sekali lagi diubah, kali ini adalah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pemberontakan 1926

Pada November 1926 PKI memimpin pemberontakan melawan pemerintahan kolonial di Jawa Barat dan Sumatra Barat. PKI mengumumkan terbentuknya sebuah republik. Pemberontakan ini dihancurkan dengan brutal oleh penguasa kolonial. Ribuan orang dibunuh dan sekitar 13.000 orang ditahan. Sejumlah 1.308 orang, umumnya kader-kader partai, dikirim ke Boven Digul, sebuah kamp tahanan di Papua [2]. Beberapa orang meninggal di dalam tahanan. Banyak aktivis politik non-komunis yang juga menjadi sasaran pemerintahan kolonial, dengan alasan menindas pemberontakan kaum komunis. Pada 1927 PKI dinyatakan terlarang oleh pemerintahan Belanda. Karena itu, PKI kemudian bergerak di bawah tanah.

Rencana pemberontakan itu sendiri sudah dirancang sejak lama. Yakni di dalam perundingan rahasia aktivis PKI di Prambanan. Rencana itu ditolak tegas oleh Tan Malaka, salah satu tokoh utama PKI yang mempunyai banyak massa terutama di Sumatra. Penolakan tersebut membuat Tan Malaka di cap sebagai pengikut Leon Trotsky yang juga sebagai tokoh sentral perjuangan Revolusi Rusia. Walau begitu, beberapa aksi PKI justru terjadi setelah pemberontakan di Jawa terjadi. Semisal Pemberontakan Silungkang di Sumatra.

Pada masa awal pelarangan ini, PKI berusaha untuk tidak menonjolkan diri, terutama karena banyak dari pemimpinnya yang dipenjarakan. Pada 1935 pemimpin PKI Moeso kembali dari pembuangan di Moskwa, Uni Soviet, untuk menata kembali PKI dalam gerakannya di bawh tanah. Namun Moeso hanya tinggal sebentar di Indonesia. Kini PKI bergerak dalam berbagai front, seperti misalnya Gerindo dan serikat-serikat buruh. Di Belanda, PKI mulai bergerak di antara mahasiswa-mahasiswa Indonesia di kalangan organisasi nasionalis, Perhimpoenan Indonesia , yang tak lama kemudian berada di dalam kontrol PKI [3].

Peristiwa Madiun 1948

Pada 8 Desember 1947 sampai 17 Januari 1948 pihak Republik Indonesia dan pendudukan Belanda melakukan perundingan yang dikenal sebagai Perundingan Renville. Hasil kesepakatan perundingan Renville dianggap menguntungkan posisi Belanda. Sebaliknya,RI menjadi pihak yang dirugikan dengan semakin sempit wilayah yang dimiliki.Oleh karena itu, kabinet Amir Syarifuddin diaggap merugikan bangsa, kabinet tersebut dijatuhkan pada 23 Januari 1948. Ia terpaksa menyerahkan mandatnya kepada presiden dan digantikan kabinet Hatta.

Selanjutnya Amir Syarifuddin membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) pada 28 Juni 1948. Kelompok politik ini berusaha menempatkan diri sebagai oposisi terhadap pemerintahan dibawah kabinet Hatta. FDR bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) merencanakan suatu perebutan kekuasaan.

Beberapa aksi yang dijalankan kelompok ini diantaranya dengan melancarkan propaganda antipemerintah, mengadakan demonstrasi-demonstrasi, pemogokan, menculik dan membunuh lawan-lawan politik, serta menggerakkan kerusuhan dibeberapa tempat.

Sejalan dengan peristiwa itu, datanglah Muso seorang tokoh komunis yang sejak lama berada di Moskow, Uni Soviet. Ia menggabungkan diri dengan Amir Syarifuddin untuk menentang pemerintah, bahkan ia berhasil mengambil alih pucuk pimpinan PKI. Setelah itu, ia dan kawan-kawannya meningkatkan aksi teror, mengadu domba kesatuan-kesatuan TNI dan menjelek-jelekan kepemimpinan Soekarno-Hatta. Puncak aksi PKI adalah pemberotakan terhadap RI pada 18 September 1948 di Madiun, Jawa Timur.T ujuan pemberontakan itu adalah meruntuhkan negara RI dan menggantinya dengan negara komunis. Dalam aksi ini beberapa pejabat, perwira TNI, pimpinan partai, alim ulama dan rakyat yang dianggap musuh dibunuh dengan kejam. Tindakan kekejaman ini membuat rakyat marah dan mengutuk PKI. Tokoh-tokoh pejuang dan pasukan TNI memang sedang menghadapi Belanda, tetapi pemerintah RI mampu bertindak cepat. Panglima Besar Soedirman memerintahkan Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur untuk menjalankan operasi penumpasan pemberontakan PKI. Pada 30 September 1948, Madiun dapat diduduki kembali oleh TNI dan polisi. Dalam operasi ini Muso berhasil ditembak mati sedangkan Amir Syarifuddin dan tokoh-tokoh lainnya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.

Bangkit kembali

Pada 1950, PKI memulai kembali kegiatan penerbitannya, dengan organ-organ utamanya yaitu Harian Rakjat dan Bintang Merah. Pada 1950-an, PKI mengambil posisi sebagai partai nasionalis di bawah pimpinan D.N. Aidit, dan mendukung kebijakan-kebijakan anti kolonialis dan anti Barat yang diambil oleh Presiden Soekarno. Aidit dan kelompok di sekitarnya, termasuk pemimpin-pemimpin muda seperti Sudisman, Lukman, Njoto dan Sakirman, menguasai pimpinan partai pada 1951. Pada saat itu, tak satupun di antara mereka yang berusia lebih dari 30 tahun. Di bawah Aidit, PKI berkembang dengan sangat cepat, dari sekitar 3.000-5.000 anggota pada 1950, menjadi 165 000 pada 1954 dan bahkan 1,5 juta pada 1959 [4]

Pada Agustus 1951, PKI memimpin serangkaian pemogokan militan, yang diikuti oleh tindakan-tindakan tegas terhadap PKI di Medan dan Jakarta. Akibatnya, para pemimpin PKI kembali bergerak di bawah tanah untuk sementara waktu.

Pemilu 1955

Pada Pemilu 1955, PKI menempati tempat keempat dengan 16% dari keseluruhan suara. Partai ini memperoleh 39 kursi (dari 257 kursi yang diperebutkan) dan 80 dari 514 kursi di Konstituante.

Perlawanan terhadap kontrol Belanda atas Papua bagian barat merupakan masalah yang seringkali diangkat oleh PKI selama tahun 1950-an.

Pada Juli 1957, kantor PKI di Jakarta diserang dengan granat. Pada bulan yang sama PKI memperoleh banyak kemajuan dalam pemilihan-pemilihan di kota-kota. Pada September 1957, Masjumi secara terbuka menuntut supaya PKI dilarang [5].

Pada 3 Desember 1957, serikat-serikat buruh yang pada umumnya berada di bawah pengaruh PKI, mulai menguasai perusahaan-perusahaan milik Belanda. Penguasaan ini merintis nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh asing. Perjuangan melawan para kapitalis asing memberikan PKI kesempatan untuk menampilkan diri sebagai sebuah partai nasional.

Pada Februari 1958 terjadi sebuah upaya kudeta yang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan pro Amerika Serikat di kalangan militer dan politik sayap kanan. Para pemberontak, yang berbasis di Sumatera dan Sulawesi, mengumumkan pada 15 Februari 1958 telah terbentuk Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Pemerintahan yang disebut revolusioner ini segera menangkapi ribuan kader PKI di wilayah-wilayah yang berada di bawah kontrol mereka. PKI mendukung upaya-upaya Soekarno untuk memadamkan pemberontakan ini, termasuk pemberlakuan Undang-Undang Darurat. Pemberontakan ini pada akhirnya berhasil dipadamkan.

Pada 1959, militer berusaha menghalangi diselenggarakannya kongres PKI. Namun demikian, kongres ini berlangsung sesuai dengan jadwal dan Presiden Soekarno sendiri menyampaikan sambutannya. Pada 1960, Soekarno melancarkan slogan Nasakom yang merupakan singkatan dari Nasionalisme, Agama, dan Komunisme. Dengan demikian peranan PKI sebagai mitra dalam politik Soekarno dilembagakan. PKI membalasnya dengan menanggapi konsep Nasakom secara positif, dan melihatnya sebagai sebuah front bersatu yang multi-kelas.

Meskipun PKI mendukung Soekarno, ia tidak kehilangan otonomi politiknya. Pada Maret 1960, PKI mengecam penanganan anggaran yang tidak demokratis oleh Soekarno. Pada 8 Juli 1960, Harian Rakjat memuat sebuah artikel yang kritis terhadap pemerintah. Para pemimpin PKI ditangkap oleh militer, namun kemudian dibebaskan kembali atas perintah Soekarno.

Ketika gagasan tentang Malaysia berkembang, PKI maupun Partai Komunis Malaya menolaknya.

Dengan berkembangnya dukungan dan keanggotaan yang mencapai 3 juta orang pada 1965, PKI menjadi partai komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. Partai itu mempunyai basis yang kuat dalam sejumlah organisasi massa, seperti SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) dan Himpunan Sardjana Indonesia (HSI). Menurut perkiraan seluruh anggota partai dan organisasi-organisasi yang berada di bawah payungnya mungkin mencapai seperlima dari seluruh rakyat Indonesia.

Pada Maret 1962, PKI bergabung dengan pemerintah. Para pemimpin PKI, Aidit dan Njoto, diangkat menjadi menteri penasihat. Pada bulan April 1962, PKI menyelenggarakan kongres partainya. Pada 1963, pemerintah Malaysia, Indonesia dan Filipina terlibat dalam pembahasan tentang pertikaian wilayah dan kemungkinan tentang pembentukan sebuah Konfederasi Maphilindo, sebuah gagasan yang dikemukakan oleh presiden Filipina, Diosdado Macapagal. PKI menolak gagasan pembentukan Maphilindo dan federasi Malaysia. Para anggota PKI yang militan menyeberang masuk ke Malaysia dan terlibat dalam pertempuran-pertempuran dengan pasukan-pasukan Inggris dan Australia. Sebagian kelompok berhasil mencapai Malaysia lalu bergabung dalam perjuangan di sana. Namun demikian kebanyakan dari mereka ditangkap begitu tiba. Kebanyakan dari satuan-satuan tempur PKI aktif di wilayah perbatasan di Kalimantan.

Pada Januari 1964, PKI mulai menyita hak milik perusahaan-perusahaan Inggris di Indonesia.

Salah satu hal yang sangat aneh yang dilakukan PKI adalah dengan diusulkannya Angkatan ke-5 yang terdiri dari buruh dan petani, kemungkinan besar PKI ingin mempunyai semacam militer partai seperti Partai Komunis Cina dan Nazi dengan SS nya. Hal inilah yang membuat TNI AD merasa khawatir takut adanya penyelewengan senjata yang dilakukan PKI dengan “tentaranya”.

Pada era akhir kekuasaan Soekarno, munculah suatu insiden pembunuhan jenderal-jenderal TNI yang disebut insiden G30S. Dalam era ketidak jelasan dan kekacauan ini membuat PKI dan Soekarno dalam masalah besar yaitu menghadapi krisis nasional. Dengan alasan ‘keterlibatan PKI dalam G30S’, partai ini dilarang oleh Pangkopkamtib Soeharto pada tanggal 12 Maret 1966, setelah mendapat Surat Perintah Sebelas Maret dari Presiden Soekarno. Yang kemudian diklaim oleh Soeharto sebagai tonggak utama kekuatan politiknya.

Gerakan 30 September sendiri sangat membingungkan, karena Soekarno sendiri dalam pidatonya mengatakan bahwa Gestok (Sebutan Soekarno untuk G 30 S) terjadi diantaranya karena keblingeran pemimpin-pemimpin PKI.

Setelah itu bermula sebuah sejarah hitam bangsa Indonesia di mana ribuan orang tak bersalah — terutama di pulau Jawa dan Bali — dibantai secara sia-sia karena dituduh ikut komunis.

Hal ini disebabkan karena rakyat Indonesia sudah merasa sangat menderita ketika PKI dianakemaskan, banyak sekali kasus-kasus pembunuhan rakyat Indonesia non PKI dilakukan oleh orang PKI tanpa ada kejelasan hukum

Menurut beberapa sumber antara 500.000 jiwa sampai 2 juta jiwa tewas dibunuh. Ribuan lainnya mendekam di penjara atau dibuang ke pulau Buru.

Sebuah upaya rekonsiliasi dan rehabilitasi yang diprakarsai oleh (mantan) presiden Gus Dur, ketika ia masih menjabat sebagai presiden diprotes beberapa partai, terutama yang berlatar belakang agama di Indonesia. Usul rekonsiliasi oleh Gus Dur telah membuka kesempatan bagi orang-orang yang masih percaya pada ideologi berhaluan kiri untuk kembali aktif dalam politik Indonesia, yaitu memiliki hak untuk memilih. Sesuatu hal yang tak didapatkan pada era Soeharto

Selasa, 21 September 2010

KUMPULAN GAMBAR SALAH

GAMBAR ANEH DAN UNIK

Kamis, 05 Agustus 2010

Enny Arrow, Novel Cabul Stensilan

Refleksi

Di tahun 1980-an tentu saja belum dikenal internet di Indonesia, juga belum ada teknologi bernama telepon genggam yang juga membawa sisi negatif maraknya film-film berdurasi pendek yang biasanya mempunyai penggemar sendiri. Film-film biru yang masih dikemas dengan format video juga hanya beredar di kalangan atas saja. Lalu dari manakah para remaja-remaja masa dekade 80 memperoleh referensi tentang seks?
Jawabannya adalah dari novel-novel stensilan atau Enny Arrow, yang biasa dijajakan secara sembunyi-sembunyi di antara para pedagang koran, kios-kios buku bekas atau lapak-lapak buku kaki lima. Ada banyak nama pengarang yang dikenal menyuguhkan cerita-cerita dewasa tersebut namun yang paling terkenal adalah Enny Arrow.
Siapakah Enny Arrow? Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya di balik nama tersebut. Yang jelas Enny Arrow hanyalah sebuah nama samaran, sebelum kemudian banyak pengarang-pengarang lain yang kemudian menjadi epigonnya dengan ikut-ikutan menggunakan nama tersebut demi mendongkrak ‘rating’.
Novel-novel karangan Enny Arrow memang begitu vulgar dan hanya mengekspos segala kebinalan seks secara terang-terangan. Sudah tentu novel-novel Enny Arrow tidak mempunyai tema atau jalan cerita yang jelas, karena memang penulisan novel stensilan ini tentunya memang dimaksudkan hanya untuk menggugah syahwat pembacanya.
Dan sudah barang tentu tidak bertujuan menyimbolisasikan apa-apa selain menyuguhkan fantasi aktivitas seksual yang badaniah itu sendiri, kendatipun fakta bahwa teks-teks demikian itu ada dan beredar secara sembunyi-sembunyi di tengah masyarakat mungkin bisa menyiratkan kenyataan tertentu di luar teks, semacam berlangsungnya represi moral yang terlampau berlebihan atas kehidupan seksual masyarakat, adanya kemunafikan sosial yang terpendam, serta pelecehan diam-diam atas nilai-nilai yang berlaku.
Pengarang juga tidak jarang menyebutkan secara eksplisit organ-organ anatomi manusia, dengan tujuan apalagi kalau bukan untuk membangkitkan syahwat pembacanya, dengan bahasa yang vulgar dan hiperbolis. Sehingga sempat beredar semacam joke, bahwa sesungguhnya pengarangnya sendiri malah belum pernah melakukan hubungan seks. Penggemarnya tidak hanya anak-anak SMP atau SMA yang memang secara alamiah mempunyai rasa penasaran yang tinggi tentang seks, namun juga di kalangan dewasa tanpa terkecuali.
Namun tentu saja seiring dengan perkembangan jaman, setelah maraknya internet, yang termasuk menjajikan kemudahan tanpa batas untuk mengakses pronografi, secara perlahan-lahan Enny Arrrow dan karya-karyanya mulai ditinggalkan penggemarnya. Dan hingga kini pun misteri di balik nama Enny Arrow tetap tidak terkuak. Pernah tersiar kabar, pada akhir tahun 2000 seseorang bernama Suwarto yang tertangkap polisi bersama-sama dengan ribuan kopi cetakan stensilan dianggap sebagai orang di belakang Enny Arrow, namun hingga sekarang tidak ada kabarnya.
Namun demikian, meski diedarkan secara underground, namun novel-novel Enny Arrow ternyata sangat populer. Sebuah survei yang dilakukan majalah “Men’s Health” edisi Indonesia pada tahun 2003 pernah mengungkapkan, membaca karya Enny Arrow/stensilan menjadi sumber pertama pengetahuan tentang seks pada 17,2 % res  pondennya.
Sumber : dekade80.blogspot.com

Rabu, 23 Juni 2010

PANTUN SUNDA



Ari reumbey reumbeuy reumbeuy Bandung
ngareumbeuy dina jambangan
ari heureuy heureuy heureuy Bandung
heureuy ge jeung kasopanan.

Ari  lilin lilin Bandung,
geus hurung sok peok deui,
ari  ulin ulin Bandung
geus embung sok hayang deui.

Kapan abdi gaduh suweng,
kunaon teu dipongpokan,
kapan abdi keur baluweng
kunaon teu dilongokan…

Melak bawang di tanjakan,
sok sieun kembangna beureum,
melang dumeh paanggang,
sok sieun kagembang deungeun.

Kembang eros jeung jalaprang,
cantigi reujeung malati,
sanaos langka patepang,
pamugi ulah rek lali.

Supa mayang saboboko,
saparo dikaparakeun,
hayang mah tibareto,
ngan acan kalaksanakeun.

Kapiting katojo bulan,
kokosan bantun tilamping,
sapeuting asa sabulan,
ngantosan panutan anu sumping.

Pongporang di luhur gunung,
saung di handapeunana,
abdi melang kanu pundung,
kumaha mah nenganana.

Hayang iuh make payung,
kumaha mukakeunana,
hayang wawuh jeung nu pundung,
kumaha nyukakeunana…

Cau ambon dikorangan
kanyéré ka pipir-pipir
Lalaki ambon sorangan
awéwé teu mikir-mikir

Cukleuk leuweung cukleuk lamping
jauh ka sintung kalapa
Lieuk deungeun lieuk lain
jauh ka indung ka bapa

Deungkleung déngdék deungkleung déngdék
buah kopi raranggeuyan
Ingkeun ieu anu déwék
ulah pati diheureuyan

Jeruk lemo jeruk butun
diteundeun di ruyuk kaso
Tilam sono ka nu ngantun
sampeureun isuk pagéto

Kapinis ulah disumpit
tangkal muncang ngarangrangan
Ieu nulis badé pamit
duakeun ti kaanggangan

Kaso pondok kaso panjang
kaso ngaroyom ka jalan
Sono mondok sono nganjang
sono patepang di jalan

Lampuyang nu cocongoan
bawaeun ka Rajagaluh
Ku hayang nya sosonoan
isuk mah urang pajauh

Majar manéh nganyam samak
neukteukan bari motongan
Majar manéh néang anak
ngadeukeutan popotongan

Meuncit meri dina rakit
boboko wadah bakatul
Lain nyeri ku panyakit
kabogoh direbut batur

Ngalantung mulungan tanjung
bari metik nagasari
baringung pikir mangpaung
ati ceurik jeung rarisi

Ngimpi ngajul kembang tanjung
ngimpi ngala nagasari
Ngimpi tepung jeung nu jangkung
tara-tara ti sasari

Pileuleuyan daun pulus
kararas daun katimpang
Pileuleuyan ulah tulus
masing ras ka nu di tukang

Reundeu beureum reundeu hideung
reundeu kayas solempangan
Beuki heubeul beuki nineung
beuki lawas kaédanan

Samping hideung dina bilik
kumaha nuhurkeunana
Abdi nineung ka nu balik
kumaha nuturkeunana
Talingtung talina benang
mobil beureum diguratan
Satungtung teu acan beunang
moal eureun disuratan
Aya listrik di masigit
caangna ka pabrik Kina
Aya istri jangkung alit
éndahna kabina-bina

Baju hideung kancing tangan
dikaput ku mérang awi
Nu hideung matak teu nangan
sing émut ka diri abdi

Baju soéh tatambalan
kaput gedé jarumatna
Daék sotéh ngawulaan
lamun hadé rumawatna

Baju tablo dibulao
kembangna katuncar mawur
Ari bogoh ti baréto
terang-terang geus ku batur

Batu turun keusik naék
kalapa tonggoheunana
Itu purun ieu daék
sarua bogoheunana

Béak daun béak randu
unggal poé dibikeunan
Béak taun béak windu
moal weleh dileukeunan

Boboko ragrag ti imah
ninggang kana pileuiteun
Nya bogoh ulah ka semah
ari balik sok leungiteun

Bubuy bulan sangray béntang
panonpoé disasaté
unggal bulan abdi téang
unggal poé ogé hade

Carulang dipahpal kuda
héjo deui héjo deui
Rék mulang samar kaduga
nénjo deui nénjo deui

És lilin buatan Bandung
dicandak ka Cipaganti
abdi isin bararingung
sok inggis henteu ngajadi

Itikurih Béntang Sinar
maén di lapang Cicéndo
Nyeri peurih kunu anyar
matak henteu hayang nénjo

Itu saha nungtun munding
digantélan saputangan
Itu saha ginding teuing
singhoréng geuning jungjunan

Kamana ngaitkeun kincir
ka kalér katojo bulan
Kamana ngaitkeun pikir
moal palér ku sabulan

Karinding palapah kawung
ditiup ku nu paranti
Nu ginding ulah mangpaung
sing émut ka diri abdi

Kembang goyang jeung érmawar
pacampur jeung kacapiring
Hariwang réa kakelar
tagiwur teu genah cicing

Leuleupeutan leuleuweungan
ngarah kékéjoanana
Deudeukeutan reureujeungan
ngarah téténjoanana

Ngala antanan ka jami
cau emas tengah huma
Kahayang ulah rék lami
geura unjukan ka Ama

Ngaput baju kurang benang
gantian ku kantéh baé
Mun panuju geura téang
kuring mah rék daék baé

Pileuleuyan cangkang béas
huut sajeroning kéjo
Pileuleuyan urang ikhlas
imut sajeroning nénjo

Pucuk tiwu akar bangban
amis mata disusukan
Mun rék milu geuwat dangdan
cimata geura susutan

Rayagung tanggal sapuluh
kasungka reujeung maléla
Abdi burung mun teu tulus
kasuka da ti baheula

Rincik-rincik hujan leutik
paralak hujan tambaga
Nilik-nilik mojang leutik
teu terang aya nu boga

Saninten buah saninten
dibantun ka parapatan
Hapunten abdi hapunten
tangtos seueur kalepatan
Sayang kaak diarengan
diasupkeun kana peti
Hayang angkat sasarengan
bati gegetun nya ati

Lain bangban lain pacing
lain kananga aduna
Lain babad lain tanding
lain ka dinya kuduna
Lamun urang ka Cikolé
moal hésé tumpak kahar
Lamun urang boga gawé
moal hésé barangdahar
Lamun urang ninun kantéh
ulah resep maké poléng
Lamun urang leutik kénéh
ulah resep ngomong goréng
Meunggeus diangir ku Jeungjing
geura ganti ku Kihiang
Meunggeus pelesir ti peuting
geura ganti ku sambéang
Mihapé sisir jeung minyak
kadé kaancloman leungeun
Mihapé pikir jeung niat
kadé kaangsonan deungeun
Mun engké mesék kalapa
pasti butuh ku cipati
Mun hadé ka indung bapa
pasti diasih ku Gusti
Masing asak-asak ngéjo
bisi tutung tambagana
Masing asak-asak nénjo
bisi kaduhung jagana
Sing getol nginum jajamu
nu guna nguatkeun urat
Sing getol néangan élmu
nu guna dunya ahérat
Abong-abong abdi bonténg
seubeuh diacar diangeun
Abong-abong abdi goréng
seubeuh disangsara deungeun
Batur mah dibaju hideung
kuring mah kabaya baé
Batur mah dipikatineung
kuring mah sangsara baé
Daék sotéh ka Cinangka
ka Cisitu mah teu purun
Daék sotéh ka manéhna
ka nu itu mah teu purun
Hayang teuing buah hiris
teu bisa ngasakanana
Hayang teuing ka nu geulis
teu bisa ngakalanana
Ka mana nya nyiar payung
sakieu panas poéna
Ka mana nya nyiar duyung
sakieu panas haténa
Mun teu tulus ka paseukna
ka pacirna ogé hadé
Mun teu tulus ka lanceukna
ka adina ogé hadé
Sapanjang jalan Soréang
moal weléh diaspalan
Sapanjang tacan kasorang
moal weléh diakalan
Sugan téh kukupu hideung
singhoréng sirama-rama
Sugan téh kukuh mitineung
singhoréng kamana-mana
Tibatan jalan gang buntu
mending gé ka Baros baé
Tibatan abdi dipalsu
mending gé teu cios baé

Salawe dua puluh lima
Mobil Sedan Cetna Hejo
Awewe jaman ayeuna
Bisa dandan teu bisa ngejo
Aya roda na tanjakan
katinggang ku pangpun jéngkol
Aya rangda gogoakan
katinggang ku hulu kohkol
Ka mana nya nyiar kulit
hayang seubeuh sesewiran
Ka mana nya nyiar duit
kayang seubeuh pelesiran
Rarasaan melak cau
teu nyaho mun melak jahé
Rarasaan matak lucu
teu nyaho mun matak réhé
Rarasaan ngala mayang
teu nyaho cangkeuteuk leuweung
Rarasaan konéng umyang
teu nyaho cakeutreuk hideung
Majar manéh cengkéh konéng
kulit peuteuy dina nyiru
Majar manéh lengkéh konéng
kulit beuteung mani nambru
Sok hayang nyaba ka Bandung
sok hayang nyaho nanjakna
Sok hayang nanya nu pundung
sok hayang nyaho nyentakna
Caang bulan opat belas
teu kaduga ku poékna
Aya bujang baju bodas
teu kaduga ku korétna
Cai mulang cai malik
cai ngocor ka astana
Panon burial buncelik
da kadempét étanana
Cau naon cau naon
cau kulutuk di juru
Bau naon bau naon
bau nu hitut di juru
Cikaracak ninggang batu
laun-laun jadi legok
Tai cakcak ninggang huntu
laun-laun nya dilebok
Cikur jangkung jahé konéng
lampuyang pamura beuteung
Rarasaan jangkung konéng
puguh mah bureuteu hideung
Daun jarak dibeungkeutan
dibawa ka jalan gedé
Anu harak ngadeukeutan
hayangeun dibawa hadé
Écét écét oét oét
ngaronda ngarurek belut
Kapélét kuring kapélét
ku randa nu gedé hitut
És lilin ku amis tiis
leuwih ngeunah ti és télér
Abdi isin ku nu geulis
dikiceupan jol ngagolér
Ka Bandung tuluy ka Bogor
di Cianjur meuli bonténg
Kasiksa boga kabogoh
sungutna bau spiténg
Ti Lélés ka Kadungora
jalana mani molongpong
Baheula nini téh ngora
ayeuna mah enggeus ompong
Ki Hiang nu meunang nuar
disugu pikeun jualeun
Kahayang meunang nu beunghar
puguh mah jalma kuuleun
Lima kirang tilu dua
nu ngitung tos bener deui
Waos tilu punglak dua
kantunna tos ungger deui
Manuk gaak macok kupat
kecok deui kecok deui
Diwedak reujeung disipat
dekok deui dekok deui
Meuleum manggu tengah poé
dicokélan kayu api
Malem minggu ninggang sué
diapélan aki-aki
Meuli topi meuli koper
selop rumput dibungkusan
Nyai koki ngaku pinter
ngesop buntuk ditungguan
Pa Suma gawéna dahar
mun bedug bakal ditéwak
Percuma dibéré beunghar
mun budug saawak-awak
Pipiti di bunga wari
kaso panjang diteukteukan
Resep ka randa kiwari
sono nganjang deudeukeutan
Pipiti dibunga wari
téténong dibobokoan
Lalaki jaman kiwari
hadé omong pangoloan
Poé Saptu poé Kemis
salasa heuleut-heuleutan
Saha itu muril kumis
leumpangna eundeuk-eundeukan
Sada ketuk sada kenong
sada suling eujeung goong
Huntuna nyénghol katémbong
lamun ngomong bau jigong
Turub cupu buli-buli
dipaké wadah hangasa
Daék sukur teu paduli
kami gé da moal maksa

CARI ARTIKEL DAN TULISAN

Loading

SELAMAT DATANG

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More