PPK LEMAHABANG

Panitia Pemilihan Kecamatan Lemahabang. Pelaksana Tahapan Penyelenggaraan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Karawang Tahun 2010.

MAKAM SYECH QURO

Lokasi Wisata Religius, Makam Syech Quro di Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang, dikunjungi oleh Peziarah dari berbagai kota terutama pada setiap malam Sabtu, hingga di kenal dengan sebutan Saptuan.

MANG AJAT

Punggawa Blog ini, Akun Facebook Ajat Apana Gin's dengan trademark (Aya..... Aya..... Wae.....) pada setiap penutup update statusnya.

TANAMAN PADI

Lahan pertanian yang luas, Padi yang bernas, hasil yang melimpah, tapi mengapa swasembada pangan hanya ada dalam impian indah yang disodorkan oleh para pejabat tinggi, hingga harga beras melambung tinggi.

ANGEUN OSKADON

Lauk pauk tradisional alternatif, dengan olahan dan bumbu sederhana menjadikan sayur ini sangat menggugah selera, masyarakat di wilayah utara Karawang -Rengasdengklok dan sekitarnya menyebutnya dengan Angeun Oskadon.

Rabu, 22 Agustus 2007

Berburu Informasi di Mesin Cari Google

Siapa yang tak kenal dengan Google. Kata Google sepertinya sudah melekat kuat di benak puluhan juta pengguna Internet. "Googling aja..", atau "tanya om Google.., celetukan seperti itu sering dilontarkan kalangan pengguna Internet kepada mereka yang ingin berburu informasi.Bahkan Google mungkin menjadi 'perhentian' pertama bagi sebagian pengguna Internet ketika melakukan pencarian.

Tampil sederhana dengan logo warna-warninya, dalam waktu singkat raksasa mesin cari ini mampu melayani ratusan juta pencarian dalam sehari. Cukup ketikkan kata kunci informasi yang ingin dicari, Google akan menyuguhkan informasi yang terkait dengan pencarian dalam waktu singkat.

Berikut beberapa informasi perihal apa saja yang bisa Anda lakukan dengan mesin cari Google, beserta sedikit tips yang bisa diterapkan saat melakukan pencarian.

1. Bubuhi tanda kutip ("..."), jika Anda ingin mencari informasi yang tepat sasaran.Tanda kutip akan menghasilkan halaman-halaman web yang lebih tepat sasaran dan berhubungan erat dengan informasi yang Anda cari. Dengan membubuhkan tanda kutip di awal dan akhir kumpulan kata, maka Google akan menyuguhkan hasil pencarian yang sama persis dengan yang Anda ketikkan.

2. Pakai tanda "~" untuk mencari sinonim kata.Coba amati bagian ujung kiri atas keyboard Anda.Disana Anda akan menemukan tanda ~ bukan? Mungkin beberapa dari Anda ada yang tidak tahu fungsi karakter ini. Tanda ini ternyata sangat berguna dalam melakukan pencarian di Google. Coba ketikkan karakter ini di depan sebuah kata (tanpa spasi). Dengan begitu Google akan mencari halaman berisi kata yang dimaksud tadi atau sinonimnya.

3. Klik "Images" jika Anda ingin mencari gambar.Mau mencari foto artis idola Anda? Klik saja tombol "Images" yang terletak di atas kotak pencarian, lalu ketikkan nama artis atau tokoh yang Anda inginkan.Google akan mencarikan foto atau gambar tersebut di database-nya lengkap dengan link halaman tempat gambar tersebut muncul.

4. Ketikkan kata yang lebih panjang agar hasil pencarian lebih relevan.Ada baiknya jika Anda mengetikkan kata yang lebih panjang di kotak pencarian Google agar hasil pencariannya lebih baik.

5. Google bisa menjadi kamus dan menterjemahkan bahasa.Ingin mencari definisi sebuah kata? Google bisa berfungsi sebagai kamus. Cukup tambahkan kata "define"diikuti kata yang ingin Anda cari, maka Google akan memberikan definisi yang Anda ingin cari dalam waktu singkat.Selain itu, Google juga bisa menjadi penterjemah bahasa. Perhatikan link "Languange Tools" yang ada di sebelah kanan kotak pencarian di homepage Google. Klik link tersebut, Anda akan diantarkan ke layanan penerjemahan Google. Ada banyak bahasa yang tersedia disana.

6. Ada banyak informasi yang tersedia dari buku-buku aktual di dunia.Ibaratnya sebuah rak yang berisi buku-buku, Google juga punya 'rak' buku online. Coba buka alamat "www.books.google. com", disana Anda bisa melihat atau membaca beragam teks dari buku-buku aktual di seluruh dunia. Hanya saja, yang dapat Anda buka atau baca adalah yang karyanya tidak dilindungi hak cipta.

7. Kalkulator dan buku telepon online. Google bisa juga dipakai sebagai kalkulator. Cukup ketikkan angka yang ingin Anda olah di kotak pencarian, Google akan mengolahnya seperti layaknya kalkulator yang biasa kita pakai. Misalnya 145+869, 125*45, 10% of 100 dan sebagainya. Selain kalkulator, Google juga bisa dimanfaatkan sebagai buku telepon. Cukup ketik nama seseorang yang Anda cari, nama kota, propinsi atau nama negaranya di kotak pencarian, Google akan menyuguhkan informasi yang Anda cari itu.

8. Apa fungsi tombol I'm Feeling Lucky? Tombol I'm Feeling Lucky yang ada di homepage Google mungkin akan sangat berguna bagi Anda yang tak ingin buang waktu membaca hasil pencarian yang dikeluarkan Google satu persatu. Masukkan kata yang Anda cari, lalu klik tombol ini, maka Google akan memotong daftar hasil pencarian yang panjang tadi. Anda akan diantarkan langsung ke halaman web yang paling sesuai. Misalnya, Indonesia University, klik tombol I'm Feeling Lucky maka Anda akan diantarkan langsung ke situs UI. Ada banyak lagi yang bisa Anda telusuri melalui mesin cari Google. Semisal informasi berita-berita terbaru melalui link "News", video, layanan peta, cuaca, harga saham dan lain sebagainya.

Sabtu, 07 Juli 2007

Men in Black

Men in Black banyak dikenal sebagai film layar lebar yang dibintangi actor komedian Will Smith Namun hanya sedikit yang tahu bahwa sebetulnya ada pula dalam kehidupan nyata, alias bukan sepenuhnya fiksi!! Beberapa catatan sejarah bahkan menyinggung keberadaan sekelompok orang-orang misterius yang berkekuatan dengan hal-hal berbau luar angkasa.

DI DALAM DUNIA NYATA
Dalam dunia nyata, definisi dari Men in Black (atau disingkat MIB) bukan orang-orang yang mengenakan jas hitam rapi, bekerja sebagai agen rahasia pemerintah dan bertugas untuk membasmi alien. Justru sebaliknya!! Men in Black merupakan sebutan bagi orang-orang yang mengenakan pakaian serba hitam dan biasanya mendatangi saksi mata yang pernah melihat ufo. Terutama jika saksi tersebut berhadapan langsung dengan mahluk luar angkasa. Dan dari berbagai kesaksian serta interview dengan orang yang pernah didatangi MIB, ternyata tujuan mereka adalah menyalahkann presepsi si saksi dan menyesatkan mereka, bahwa yang mereka lihat bukan alien!! Tapi itu hanyalah salah satu definisi yang beredar mengenai Men in Black karana banyak kalangan yang memiliki pendapat lain.
Seorang penulis Amerika bernama Jerome Clarck menyatakan bahwa MIB tidaklah selalu berpakaian serba hitam. Menurut Clarck, sebutan itu hanyalah istilah umum yang menggambarkan orang-orang yang berpenampilan diluar kebiasaan atau eksentrik.
Mereka kadang memakai pakaian yang sudah lama atau ketinggalan jaman, seragam USAF (United States Air Force) atau bahkan mengenakan model yang nantinya bakal booming dimasa depan.
Kebanyakan para agen MIB digambarkan selalu memakai kacamata hitam sebagai aksesoris wajib, dimana hal yang disinyalir untuk menutupi bentuk mata mereka karena mempunyai mata sipit . Ada pula yang menyebutkan kalau mata agen MIB berbentuk aneh dan besar karena pengaruh tiroid , sebagian bahkan percaya kalau bentuk mata mereka sama seperti alien gray!! Karena mereka ialah agen khusus maka bukan tidak mungkin cara hidup mereka juga ditangani secara khusus pula. Selain mata, jari-jari para agen MIB juga dikabarkan lebih panjang dari manusia normal dan suara mereka mirip dengan suara robot. Pelengkap lain yang biasanya digunakan adalah mobil cadillac antik berwarna hitam yang somehow terlihat selalu seperti baru.
FENOMENA MIB
Fenomena keberadaan MIB ternyata pernah sangat popular di tahun 1950 dan 1960. Pada masa tersebut tercatat bahwa beberapa agen MIB pernah melakukan intimidasi pada seorang reporter yang bertempat tinggal di pinewood, West Virginia. Reporter tersebut dipaksa untuk berhenti menulis artikel mengenai keberadaan MIB di pinewood, yang ia kirimkan pada koran lokal dan nasional. Perlu dicatat bahwa pinewood sendiri merupakan daerah yang sangat popular dengan mahluk yang dijuluki Mothman di akhir era 1960-an. Fenomena Mothman pun secara tidak langsung menguatkan dugaan bahwa MIB beroprasi di Pinewood untuk menyelidiki keberadaan mahluk Mothman itu.
Laporan mengenai Men in Black paling mendetail terjadi pada tahun 1976 dimana seorang pria bernama Dr.Herbert Hopkins yang berusia 58 tahun , melaporkan bahwa ia pernah didatangi Men in Black . Hopkins yang berprofesi sebagai konsultan mengenai UFO ditelpon oleh seseorang yang mengaku sebagai Vice President of New Jersey UFO Research Organization yang ingin berbincang – bincang denganya. Anehnya orang tersebut, yang mengenakan pakaian serba hitam, sudah muncul di teras rumahnya beberapa menit setelah Dr. Hopkins menaruh gagang telepon!! Ia juga menemui banyak kejanggalan selama berbicara dengan tamunya.
Banyak keanehan mengenai penampilan, tanduk-tanduk serta ucapan orang itu menimbulkan munculnya banyak teori mengenai identitas mereka yang yang sebenarnya. Beberapa teori konspirasi menyebutkan kalau agen MIB bukan seseorang manusia biasa, tapi ras hybrid manusia-alien. Mereka bertugas membersihkan segala bukti fisik mengenai campur tangan alien yang tersisa di bumi. Oleh karena itu penampilan agen MIB tampak berbeda dari manusia biasa. Namun ada juga yang percaya bahwa mereka adalah agen pemerintah (misalnya agen CIA) yang berusaha menutup-nutupi penampakan UFO.
AKSI MEREKA
Para agen MIB digambarkan selalu bekerja dengan sangat professional, teliti dan juga sistematis. Mereka akan memeriksa serta mempelajari seluruh informasi dari orang yang bakal mereka kontak, sampai ke detail yang paling kecil sekalipun. Disamping itu para agen MIB kelihatan sangat terlatih untuk menyesuaikan diri sesuai dengan situasi dan kondisi yang dapat berubah setiap saat. Namun perilaku mereka tidak dapat dipukul rata alias dapat berbeda-beda pada setiap individunya. Terkadang mereka bisa bertingkah seperti agen rahasia yang berusaha menguak serta mengoleksi data sebanyak mungkin mengenai fenomena yang dilihat oleh subjek interogasi. Tapi di pihak lain mereka dapat pula berlaku layaknya manusia biasa yang meyakinkan bahwa fenomena yang dilihat saksi adalah tidak nyata.
Para agen MIB kadang bertingkah sangat serius , namun dapat pula menjadi sangat ramah dan penuh humor pada situasi tertentu. Uniknya , ada yang beberapa saksi menyatakan bahwa tindak-tanduk mereka seperti robot yang sudah di program , sehingga reaksi mereka menjadi sangat kikuk sewaktu memasuki situsi diluar dugaan.
OTHER CONSPIRACIES
Walau fenomena MIB banyak dilaporkan pada tahun 1950-1960, beberapa peneliti seperti John Keel menemukan kemiripan antara laporan mengenai aksi para MIB dengan catatan penampakan iblis. Ia menjelaskan bahwa kemunculan agen MIB sangat pararel dengan dongeng maupun mitos mengenai orang yang bertemu dengan iblis. Secara militer , Jerome Clarck mengutip tulisan Bill More yang menyatakan ” Men in Black merupakan staff pemerintah yang bekerja dalam penyamaran, anggota dari unit khusus bernama Air Force Intteligence atau kini dikenal juga sebagai Air Force Special Activities Center (AFSAC).
Teori konspirasi yang juga dikutip oleh Jerome Clarck berasal dari Dr Michael D. Swords, yang memaparkan bahwa MIB merajuk pada unit khusus dari CIA yang meneliti eksperimen psikologis manusia. Mereka berkutat dengan individu yang dianggap beresiko tinggi dalam membahayakan keamanan nasional, karena mengetahui banyak arsip rahasia pemerintah. Oleh karena itu diugaskanlah agen-agen Khusus dari AFFTC Det 3 untuk memastikan mereka tetap tutup mulut!!

Selasa, 19 Juni 2007

Tujuh Welas Pupuh

Kanggo nyusun rumpaka pupuh, kedah ditarekahan supados luyu sareng jiwa pupuh nu tujuh welas nya eta:



  1. Asmarandana, ngagambarkeun rasa kabirahian, deudeuh asih, nyaah.
  2. Balakbak, ngagambarkeun heureuy atawa banyol.
  3. Dangdanggula, ngagambarkeun katengtreman, kawaasan, kaagungan, jeung kagumnbiraan.
  4. Durma, ngagambarkeun rasa ambek, gede hate, atawa sumanget.
  5. Gambuh, ngagambarkeun kasedih, kasusah, atawa kanyeri.
  6. Gurisa, ngagambarkeun jelema nu ngalamun atawa malaweung.
  7. Juru Demung, ngagambarkeun nu bingung, susah ku pilakueun.
  8. Kinanti, ngagambarkeun nu keur kesel nungguan, deudeupeun, atawa kanyaah.
  9. Ladrang, ngagambarkeun nu resep banyol bari nyindiran.
  10. Lambang, ngagambarkeun nu resep banyol tapi banyol nu aya pikiraneunana.
  11. Magatru, ngagambarkeun nu sedih, handeueul ku kalakuan sorangan, mapatahan.
  12. Maskumambang, ngagambarkeun kanalangsaan, sedih bari genes hate.
  13. Mijil, ngagambarkeun kasedih tapi bari gede harepan.
  14. Pangkur, ngagambarkeun rasa ambek nu kapegung, nyanghareupan tugas nu beurat.
  15. Pucung, ngagambarkeun rasa ambek ka diri sorangan, atawa keuheul kulantaran teu panuju hate.
  16. Wirangrong, ngagambarkeun nu kawiwirangan, era ku polah sorangan.
  17. Sinom, ngagambarkeun kagumbiraan, kadeudeuh.

  1. PUPUH ASMARANDANA

    (Ngagambarkeun rasa deudeuh, asih, nyaah, birahi)PIWURUK SEPUH

    Ngariung di tengah bumi,

    pun biang sareng pun bapa,

    jisim abdi diuk mando,

    husu ngupingkeun pituah,

    piwejang ti anjeunna,

    pituduh laku rahayu,

    piwejang sangkan waluya. 
  2. PUPUH BALAKBAK

    (Ngagambarkeun heureuy atawa banyol) DAYEUH BANDUNG

    Dayeuh Bandung kiwari teuing ku rame-araheng,

    gedong-gedong pajangkung-jangkung wangunna-alagreng,

    tutumpakan-tutumpakan balawiri lalar liwat-garandeng. 
  3. PUPUH DANGDANGGULA

    (Ngagambarkeun katengtreman, kawaasan, kaagungan, kagumbiraan) MILANG KALA

    Dinten ieu estu bingah ati,

    ku jalaran panceg milang kala,

    kenging kurnia ti Alloh,

    rehing nambahan taun,

    tepung taun umur sim abdi,

    henteu weleh neneda,

    ka Gusti Nu Agung,

    malar umur teh mangpaat,

    tebih bahla turta pinarinan rijki,

    sumujud ka Pangeran. 
  4. PUPUH DURMA

    (Ngagambarkeun rasa ambek, gede hate, sumanget)LEMAH CAI

    Nagri urang katelah Indonesia,

    diriksa tur dijaring,

    sumirat komarana,

    berkahna Pancasila,

    ageman eusining nagri,

    yu sauyunan,

    ngawangun lemah cai. 
  5. PUPUH GAMBUH

    (Ngagambarkeun kasedih, kasusah, kanyeri)KADUHUNG

    Kaduhung sagede gunung,

    kuring sakola teu jucung,

    lalawora resep ulin,

    hanjakal tara ti heula,

    ayeuna kari peurihna. 
  6. PUPUH GURISA

    (Ngagambarkeun nu ngalamun atawa malaweung) SI KABAYAN

    Si Kabayan lalamunan,

    pangrasa bisa nyetiran,

    motor atawana sedan,

    poho keur eundeuk-eundeukan,

    na dahan emplad-empladan,

    gujubar kana susukan. 
  7. PUPUH JURU DEMUNG

    (Ngagambarkeun nu bingung ku kalakuan sorangan)ADIGUNG

    Lolobana mungguh jalma,

    embung hina hayang agung,

    hayang hirup mukti,

    tapina embung tarekah,

    tinangtu mo bakal nanjung. 
  8. PUPUH KINANTI

    (Ngagambarkeun nu nungguan, deudeupeun atawa kanyaah) KANYAAH INDUNG

    Kanyaah indung mo suwung,

    lir jaladri tanpa tepi,

    lir gunung tanpa tutugan,

    asihna teuing ku wening,

    putra teh didama-dama,

    dianggo pupunden ati. 
  9. PUPUH LAMBANG

    (Ngagambarkeun anu lohong banyol, tapi pikiraneun)WAWANGSALAN

    Dialajar wawangsalan,

    saperti tatarucingan,

    cik naon atuh maksudna,

    teangan naon wangsalna,

    gedong ngambang di sagara,

    ulah kapalang diajar,

    keuyeup gede di lautan,

    kapitineung salawasna. 
  10. PUPUH LADRANG

    (Ngagambarkeun anu banyol tapi bari nyindiran)MOKAHAAN

    Aya hiji anak bangkong leutik,

    mokahaan,

    maksudna ngelehkeun sapi,

    nahan napas antukna bitu beuteungna. 
  11. PUPUH MAGATRU

    (Ngagambarkeun nu sedih, bingung, handeueul atawa mapatahan) KASAR - LEMES

    Dupi irung lemesna teh nya pangambung,

    pipi mah disebat damis,

    upami buuk mah rambut,

    ceuli sok disebat cepil,

    kasarna angkeut mah gado. 
  12. PUPUH MASKUMAMBANG

    (Ngagambarkeun kanalangsaan, sedih bari ngenes hate) BUDAK JAIL

    Anak manuk dikatepel budak jail,

    jangjangna getihan,

    rek hiber teu bisa usik,

    duh manusa kaniaya. 
  13. PUPUH MIJIL

    (Ngagambartkeun kasedih tapi gede harepan)NUNGTUT ELMU

    Najan cicing nya di tepiswiring,

    kade ulah bodo,

    kudu tetep nungtut elmu bae,

    sabab jalma nu loba pangarti,

    hirup tangtu hurip,

    mulus tur rahayu. 
  14. PUPUH PANGKUR

    (Ngagambarkeun nu gede ambek atawa nyanghareupan tugas beurat) KA SAKOLA

    Seja miang ka sakola,

    rek diajar nambahan elmu pangarti,

    pigeusaneun bekel hirup,

    sabab mungguhing manusa,

    kudu pinter beunghar ku elmu panemu,

    komo jaman pangwangunan,

    urang kudu singkil bakti. 
  15. PUPUH PUCUNG

    (Ngagambarkeun nu ambek ka diri sorangan atawa keuheul kulantaran teu panuju hate) TATAKRAMA

    Mangka inget tatakrama sopan santun,

    tanda jalma iman,

    nyarita jeung amis budi,

    da basa mah lain barang anu mahal. 
  16. PUPUH WIRANGRONG

    (Ngagambarkeun anu kawiwirangan, era ku polah sorangan) SIEUN DORAKA

    Kuring moal deui-deui,

    gaduh panata nu awon,

    ngabantah nu jadi indung,

    sieun dibendon ku Gusti,

    kawas Dalem Boncel tea,

    doraka ti ibu-rama. 
  17. PUPUH SINOM

    (Ngagambarkeun kagumbiraan, kadeudeuh) TATAR SUNDA

    Tatar Sunda estu endah,

    lemah cai awit jadi,

    sarakan asal gumelar,

    amanat Ilahi Robbi,

    titipan nini aki,

    wajib dijaga dijungjung,

    basa katut budayana,

    padumukna luhung budi,

    insya-Allah tatar Sunda karta harja.
Gapuraning Gusti, 1992.
Rumpaka Pupuh Asmarandana, Dangdanggula, Kinanti, Sinom Tina Buku Wulang Krama karya Drs. R.H. Hidayat Suryalaga.

Sabtu, 05 Mei 2007

Kanjeng Ratu Kidul

Siapakah sesungguhnya Kanjeng Ratu Kidul itu? Benarkah ada dalam kesungguhannya, ataukah hanya dikenal dalam dongeng saja?
Pertanyaan ini pantas timbul, karena Kanjeng Ratu Kidul termasuk makhluk halus. Hidupnya di alam limunan (gaib), dansukar untuk dibuktikan dengan nyata. Pada umumnya oarang mengenalnya hanya dari tutur kata dan dari semua cerita atau kata orang ini, orang itu, bila dikumpulkan akan menjadi seperti berikut:

Menurut cerita umum, Kanjeng Ratu Kidul pada mudanya bernama Dewi Retna Suwida, seorang putri dari Pajajaran, anak Prabu Mundhingsari, dari istrinya yang bernama Dewi Sarwedi, cucu Sang Hyang Saranadi, cicit Raja siluman di Sigaluh.
Sang putri melarikan diri dari keraton dan bertapa di gunung Kombang. Selama bertapa ini sering nampak kekuatan gaibnya, dapat berganti rupa dari wanita menjadi pria atau sebaliknya. Sang putri wadat (tidak bersuami) dan menjadi ratu diantara makhluk halus seluruh pulau jawa. Istananya didasar samudra indonesia. Tidaklah mengherankan, karena sang putri memang mempunyai darah keturunan dari makhluk halus.
Diceritakan selanjutnya, bahwa setelah menjadi raru sang putri lalu mendapat julukan Kanjeng Ratu Kidul Kencanasari. Ada juga sementara orang yang menyebut Nyai Lara Kidul (di keraton surakarta sebutan Nyai Lara Kidul adalah untuk patihnya, bukan untuk Kanjeng Ratu Kidul sendiri). Malahan ada juga yang menyebutnya Nyira Kidul. Dan yang menyimpang lagi adalah: Bok Lara Mas Ratu Kidul. Kata “Lara” berasal dari “Rara”, yang berarti perawan (tidak kawin).
Dikisahkan, bahwa Dewi Retna Suwida yang cantiknya tanpa tanding itu menderita sakit budhug (lepra). Utuk mengobatinya harus mandi dan merendam diri didalam suatu telaga, di pinggir samudra. Konon pada suatu hari, tatkala akan membersihkan muka sang putri melihat bayangan mukanya di permukaan air. Terkejut karena melihat mukanya yang sudah rusak, sang putri lalu terjun kelaut dan tidak kembali lagi ke daratan, dan hilanglah sifat kemanusiaannya serta menjadi makhluk halus.
Ceritaa lain lagi menyebutkan bahwa sementara orang ada yang menamakannya Kanjeng Ratu Angin-angin. Sepanjang penelitian yang pernah dilakukan dapat disimpulakan bahwa Kanjeng Ratu Kidul tidaklah hanya menjadi ratu makhluk halus saja melainkan juga menjadi pujaan penduduk daerah pesisir pantai selatan, mulai darah Jogjakarta sampai dengan Banyuwangi.
Camat desa Paga menerangkan bahwa daerah pesisirnya mempunyai adat bersesaji ke samudra selatan untuk Nyi Rara Kidul. Sesajinya diatur didalam rumah kecil yang khusus dibuat untuk keperluan tersebut (sanggar). Juga pesisir selatan Lumajang setiap tahun mengadakan korban kambing untuknya dan orang pun banyak sekali yang datang.
Mr Welter, seorang warga belanda yang dahulu menjadi Wakil ketua Raad van Indie, menerangkan bahwa tatkala ia masih menjadi kontrolir di Kepanjen, pernah melihat upacara sesaji tahunan di Ngliyep, salah satu pesisir pantai selatan, Jawa timur, yang khusus diadakan untuk Nyai rara kidul. Ditunjukkannya gambar sebuah rumah kecil dengan bilik di dalamnya berisi tempat peraduan dengan sesaji punjungan untuk Nyai Rara Kidul.
Seorang perwira ALRI yang sering mengadakan latihan didaerah ngliyep menerangkan bahwa di pulau kecil sebelah timur ngliyep memang masih terdapat sebuah rumah kecil, tetapi kosong saja sekarang. Apakah rumah ini terlukis gambar Tuan Welter, belumlah dapat dipastikan.
Pengalaman seorang kenalan dari Malang menyebutkan bahwa pada tajun 1955 pernah ada serombongan oran-orang yang nenepi (pergi ke tempat-tempat sepi dan keramat) dipulau karang kecil, sebelah timur Ngliyep.
Seorang diantara mereka adalah gurunya. Dengan cara tanpa busana mereka bersemadi disitu. Apa yang kemudian terjadi ialah, bahwa sang guru mendapat kemben, tanpa diketahui dari siapa asalnya. Yang dapat diceritakannya ialah bahwa ia merasa melihat sebuah rumah emas yang lampunya bersinar-sinar terang sekali.
Dipacitan ada kepercayaan larangan untuk memakai pakaian berwarna hijau gadung (hijau lembayung), yang erat hubungannya dengan Nyai Rara Kidul. Bila ini dilanggar orang akan mendapat bencana. Ini di buktikan denga terjadinya suatu malapetaka yang menimpa suami-istri bangsa belanda beserta dua orang anaknya. Mereka bukan saja tidak percaya pada larangan tersebut, bahkan mengejek dan mencemoohkannya. Pergilah mereka kepantai dengan berpakaian serba hijau. Terjadilah sesuatu yang mengejutkan, karena tiba-tiba ombak besar datang dan dan kembalinya kelaut sambil menyambar keempat orang belanda tersebut.
Artikel 2
Di suatu masa, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia pun dipanggil Dewi Srengenge yang berarti matahari yang indah. Dewi Srengenge adalah anak dari Raja Munding Wangi. Meskipun sang raja mempunyai seorang putri yang cantik, ia selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkimpoian tersebut. Maka, bahagialah sang raja.
Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja, dan ia pun berusaha agar keinginannya itu terwujud. Kemudian Dewi Mutiara datang menghadap raja, dan meminta agar sang raja menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah tentu raja menolak. “Sangat menggelikan. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putriku”, kata Raja Munding Wangi. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara pun tersenyum dan berkata manis sampai raja tidak marah lagi kepadanya. Tapi walaupun demikian, dia tetap berniat mewujudkan keinginannya itu.
Pada pagi harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang dukun. Dia ingin sang dukun mengutuk Kadita, anak tirinya. “Aku ingin tubuhnya yang cantik penuh dengan kudis dan gatal-gatal. Bila engkau berhasil, maka aku akan memberikan suatu imbalan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya.” Sang dukun menuruti perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah dipenuhi dengan kudis dan gatal-gatal. Ketika dia terbangun, dia menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi dengan bisul. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa.
Ketika Raja mendengar kabar itu, beliau menjadi sangat sedih dan mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit putrinya itu tidak wajar, seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya. Masalah pun menjadi semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksanya untuk mengusir puterinya. “Puterimu akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri,” kata Dewi Mutiara. Karena Raja tidak menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, akhirnya beliau terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya ke luar dari negeri itu.
Puteri yang malang itu pun pergi sendirian, tanpa tahu kemana harus pergi. Dia hampir tidak dapat menangis lagi. Dia memang memiliki hati yang mulia. Dia tidak menyimpan dendam kepada ibu tirinya, malahan ia selalu meminta agar Tuhan mendampinginya dalam menanggung penderitaan..
Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya tiba di Samudera Selatan. Dia memandang samudera itu. Airnya bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang airnya biru atau hijau. Dia melompat ke dalam air dan berenang. Tiba-tiba, ketika air Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya, mukjizat terjadi. Bisulnya lenyap dan tak ada tanda-tanda bahwa dia pernah kudisan atau gatal-gatal. Malahan, dia menjadi lebih cantik daripada sebelumnya. Bukan hanya itu, kini dia memiliki kuasa untuk memerintah seisi Samudera Selatan. Kini ia menjadi seorang peri yang disebut Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Samudera Selatan yang hidup selamanya.
Kanjeng Ratu Kidul = Ratna Suwinda
Tersebut dalam Babad Tanah Jawi (abad ke-19), seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran, Joko Suruh, bertemu dengan seorang pertapa yang memerintahkan agar dia menemukan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Karena sang pertapa adalah seorang wanita muda yang cantik, Joko Suruh pun jatuh cinta kepadanya. Tapi sang pertapa yang ternyata merupakan bibi dari Joko Suruh, bernama Ratna Suwida, menolak cintanya. Ketika muda, Ratna Suwida mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah bukit. Kemudian ia pergi ke pantai selatan Jawa dan menjadi penguasa spiritual di sana. Ia berkata kepada pangeran, jika keturunan pangeran menjadi penguasa di kerajaan yang terletak di dekat Gunung Merapi, ia akan menikahi seluruh penguasa secara bergantian.
Generasi selanjutnya, Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Ke-2, mengasingkan diri ke Pantai Selatan, untuk mengumpulkan seluruh energinya, dalam upaya mempersiapkan kampanye militer melawan kerajaan utara. Meditasinya menarik perhatian Kanjeng Ratu Kidul dan dia berjanji untuk membantunya. Selama tiga hari dan tiga malam dia mempelajari rahasia perang dan pemerintahan, dan intrik-intrik cinta di istana bawah airnya, hingga akhirnya muncul dari Laut Parangkusumo, kini Yogyakarta Selatan. Sejak saat itu, Ratu Kidul dilaporkan berhubungan erat dengan keturunan Senopati yang berkuasa, dan sesajian dipersembahkan untuknya di tempat ini setiap tahun melalui perwakilan istana Solo dan Yogyakarta.
Begitulah dua buah kisah atau legenda mengenai Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan. Versi pertama diambil dari buku Cerita Rakyat dari Yogyakarta dan versi yang kedua terdapat dalam Babad Tanah Jawi. Kedua cerita tersebut memang berbeda, tapi anda jangan bingung. Anda tidak perlu pusing memilih, mana dari keduanya yang paling benar. Cerita-cerita di atas hanyalah sebuah pengatar bagi tulisan selanjutnya.
Kanjeng Ratu Kidul dan Keraton Yogyakarta
Percayakah anda dengan cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan? Sebagian dari anda mungkin akan berkata TIDAK. Tapi coba tanyakan kepada mereka yang hidup dalam zaman atau lingkungan Keraton Yogyakarta. Mereka yakin dengan kebenaran cerita ini. Kebenaran akan cerita Kanjeng Ratu Kidul memang masih tetap menjadi polemik. Tapi terlepas dari polemik tersebut, ada sebuah fenomena yang nyata, bahwa mitos Ratu Kidul memang memiliki relevansi dengan eksistensi Keraton Yogyakarta. Hubungan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan Keraton Yogyakarta paling tidak tercantum dalam Babad Tanah Jawi (cerita tentang kanjeng Ratu Kidul di atas, versi kedua). Hubungan seperti apa yang terjalin di antara keduanya?
Y. Argo Twikromo dalam bukunya berjudul Ratu Kidul menyebutkan bahwa masyarakat adalah sebuah komunitas tradisi yang mementingkan keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan hidup. Karena hidup ini tidak terlepas dari lingkungan alam sekitar, maka memfungsikan dan memaknai lingkungan alam sangat penting dilakukan.
Sebagai sebuah hubungan komunikasi timbal balik dengan lingkungan yang menurut masyarakat Jawa mempunyai kekuatan yang lebih kuat, masih menurut Twikromo, maka penggunaan simbol pun sering diaktualisasikan. Jika dihubungkan dengan makhluk halus, maka Javanisme mengenal penguasa makhluk halus seperti penguasa Gunung Merapi, penguasa Gunung Lawu, Kayangan nDelpin, dan Laut Selatan. Penguasa Laut Selatan inilah yang oleh orang Jawa disebut Kanjeng Ratu Kidul. Keempat penguasa tersebut mengitari Kesultanan Yogyakarta. Dan untuk mencapai keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan dalam masyarakat, maka raja harus mengadakan komunikasi dengan “makhluk-makhluk halus” tersebut.
Menurut Twikromo, bagi raja Jawa berkomunikasi dengan Ratu Kidul adalah sebagai salah satu kekuatan batin dalam mengelola negara. Sebagai kekuatan datan kasat mata (tak terlihat oleh mata), Kanjeng Ratu Kidul harus dimintai restu dalam kegiatan sehari-hari untuk mendapatkan keselamatan dan ketenteraman.
Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ini diaktualisasikan dengan baik. Pada kegiatan labuhan misalnya, sebuah upacara tradisional keraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan Yogyakarta, yang diadakan tiap ulang tahun Sri Sultan Hamengkubuwono, menurut perhitungan tahun Saka (tahun Jawa). Upacara ini bertujuan untuk kesejahteraan sultan dan masyarakat Yogyakarta.
Kepercayaan terhadap Kanjeng Ratu Kidul juga diwujudkan lewat tari Bedaya Lambangsari dan Bedaya Semang yang diselenggarakan untuk menghormati serta memperingati Sang Ratu. Bukti lainnya adalah dengan didirikannya sebuah bangunan di Komplek Taman Sari (Istana di Bawah Air), sekitar 1 km sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dinamakan Sumur Gumuling. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan sultan dengan Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.
Penghayatan mitos Kanjeng Ratu Kidul tersebut tidak hanya diyakini dan dilaksanakan oleh pihak keraton saja, tapi juga oleh masyarakat pada umumnya di wilayah kesultanan. Salah satu buktinya adalah adanya kepercayaan bahwa jika orang hilang di Pantai Parangtritis, maka orang tersebut hilang karena “diambil” oleh sang Ratu.
Selain Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mitos Kanjeng Ratu Kidul juga diyakini oleh saudara mereka, Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam Babad Tanah Jawi memang disebutkan bahwa Kanjeng Ratu Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senopati, penguasa pertama Kerajaan Mataram, untuk menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka. Dan karena kedua keraton (Yogyakarta dan Surakarta) memiliki leluhur yang sama (Kerajaan Mataram), maka seperti halnya Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta juga melaksanakan berbagai bentuk penghayatan mereka kepada Kanjeng Ratu Kidul. Salah satunya adalah pementasan tari yang paling sakral di keraton, Bedoyo Ketawang, yang diselenggarakan setahun sekali pada saat peringatan hari penobatan para raja. Sembilan orang penari yang mengenakan pakaian tradisional pengantin Jawa mengundang Ratu Kidul untuk datang dan menikahi susuhunan, dan kabarnya sang Ratu kemudian secara gaib muncul dalam wujud penari kesepuluh yang nampak berkilauan.
Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ternyata juga meluas sampai ke daerah Jawa Barat. Anda pasti pernah mendengar, bahwa ada sebuah kamar khusus (nomor 308) di lantai atas Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, yang disajikan khusus untuk Ratu Kidul. Siapapun yang ingin bertemu dengan sang Ratu, bisa masuk ke ruangan ini, tapi harus melalui seorang perantara yang menyajikan persembahan buat sang Ratu. Pengkhususan kamar ini adalah salah satu simbol ‘gaib’ yang dipakai oleh mantan presiden Soekarno.
Sampai sekarang, di masa yang sangat modern ini, legenda Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan, adalah legenda yang paling spektakuler. Bahkan ketika anda membaca kisah ini, banyak orang dari Indonesia atau negara lain mengakui bahwa mereka telah bertemu ratu peri yang cantik mengenakan pakaian tradisional Jawa. Salah satu orang yang dikabarkan juga pernah menyaksikan secara langsung wujud sang Ratu adalah sang maestro pelukis Indonesia, (almarhum) Affandi. Pengalamannya itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah lukisan.
ess.com/

Rabu, 04 April 2007

KOMPLEK PERCANDIAN BATUJAYA-CANDI JIWA

Candi Jiwa merupakan bagian dari beberapa candi peninggalan jaman kerajaan Tarumanegara. Candi Budha ini pertama kali ditemukan oleh seorang petani pada tahun 1984 yang menemukan hewan gembalanya mati di tempat tersebut. Lokasi situs ini adalah di desa Segaran, Kecamatan Batu Jaya, Kabupaten Karawang Jawa Barat, kira-kira 36 km dari Pasar Rengasdengklok.



Sekilas Tentang Karawang
Karawang sebagai salah satu kota di pesisir utara Jawa Barat selama bertahun-tahun telah dikenal sebagai lumbung beras nasional, Namun sebenarnya prestasi kota ini tidak sekadar sebagai penghasil beras semata. Pada zaman perang kemerdekaan, kota ini mengukir sejarah ketika sekelompok pemuda mendesak Soekarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia dengan membawa Soekarno Ke Rengas Dengklok. Dan hasilnya, sehari setelah peristiwa tersebut Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Kini rumah ketika Soekarno pernah diungsikan tersebut masih dapat ditemukan tidak jauh dari pasar Rengas Dengklok. Dalam perkembangannya ternyata Karawang juga menyimpan potensi sumberdaya arkeologi yang sangat besar sejak masa prasejarah, klasik sampai masa Islam tumbuh dan berkembang di Jawa Barat. 
Dua situs dari masa klasik yakni Batujaya dan Cibuaya, sampai saat ini setidaknya memiliki 30 buah lokasi yang diduga merupakan bangunan candi dari masa Kerajaan Tarumanagara sampai Sunda. Satu jumlah yang berlum tertandingi oleh daerah lain di Jawa Barat dan tentu tidak berlebihan jika Karawang mendapat julukan sebagai Lumbung Candi di Jawa Barat.
Letak dan Keadaan Geografi
Tidak sukar untuk mengunjungi Komplek Percandian Batujaya yang ditemukan pada tahun 1984 ini. Dari Pasar Rengasdengklok dapat ditempuh dengan kendaraan umum kurang lebih 30 menit melalui satu-satunya jalan yang menghubungkan kota ini sampai ke Pantai Pakis. Sesampai di Desa Segaran perjalanan masih harus dilanjutkan dengan menggunakan ojek yang biasa mangkal di ujung jalan. Jangan kuatir akan tersesat karena dari jalan raya arah ke Desa Segaran telah tampak papan penunjuk yang berbunyi “Candi Jiwa” meskipun ukurannya tidak terlalu besar. Tetapi tentu jika tidak mau repot memang lebih baik menggunakan kendaraan pribadi. Komplek percandian ini letaknya tersebar dalam radius 5 hektare dan sebagian besar berada di areal pertanian. Dari seluruh situs yang ditemukan baru candi Jiwa dan Blandongan yang dibuatkan jalan setapaknya sisanya dapat ditempuh melalui pematang sawah. Lumayan juga bisa menikmati suasana alam pertanian. Dari 24 lokasi yang ditemukan, 13 lokasi berada di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya dan sisanya berada di Desa Telagajaya, Kecamatan Telagajaya.

Secara topografis, komplek ini berada pada dataran rendah aluvial dengan ketinggian sekitar 4 meter di atas permukaan laut. Sebelah barat daya komplek merupakan daerah limpahan banjir dan di utara merupakan rawa yang selalu digenangi air pada musim hujan. Dengan demikian kemungkinan komplek ini tergenang air banjir sangatlah kecil karena sekitarnya merupakan daerah kantung air. Secara geografis, letaknya berada di ujung Karawang pada kordinat 6°06’15’’ - 6°16’17” Lintang Selatan dan 107°09’01” - 107°09’03” Bujur Timur.

Sekitar 500 meter di sebelah selatan candi ini mengalir Sungai Citarum yang dimanfaatkan untuk irigasi air. Sungai utama yang mengalir di daerah Batujaya ini berhulu di lereng Gunung Wayang, Malabar. Lebar sungai sekitar 40 -- 60 meter terutama di daerah hilir. Sungai ini tergolong berstadia tua dengan ciri lembah berbentuk huruf U dan aliran sungai berkelok-kelok.

Mendekati muara di Laut Jawa, aliran sungai ini terpecah menjadi tiga yakni Solo Bungin, Solo Balukbuk, dan Kali Muara Gembong. Selain Sungai Citarum di daerah Batujaya terdapat tiga buah sungai yang bermuara di Laut Jawa yakni Sungai Pakis, Sukajaya, dan Cikiong.

Komplek Percandian Batujaya yang terletak di daerah tanggul alam hampir setiap tahun menerima lumpur banjir kiriman dari Sungai Citarum hingga menyebabkan permukaan tanah di daerah ini cenderung meningkat. Hal ini juga yang membuat sebagian besar komplek candi ini tertimbun tanah sampai kedalaman 1-2 meter pada saat ditemukan kembali.

Penduduk
Masyarakat di daerah ini pada umumnya hidup dari bercocok tanam. Oleh karena itu, sebagian besar lahan di daerah Batujaya digunakan untuk areal persawahan irigasi. Pola tanam padi sebanyak dua kali setahun dan pola tata air yang baik menyebabkan daerah ini subur dan menjadi tulang punggung bagi penyediaan beras. Tak heran jika wilayah Karawang yang mempunyai luas wilayah sekitar 3120 Km ini dikenal sebagai lumbung padi nasional.

Di samping bercocok tanam, masyarakat yang tinggal di daerah pantai umumnya hidup sebagai nelayan tradisional. Tampaknya dua jenis pekerjaan ini merupakan keahlian yang telah dilakukan secara turun temurun dari leluhur mereka. Hal ini dapat diketahui dari hasil penelitian arkeologi di Komplek Percandian Batujaya yang menemukan bandul jaring dan sisa-sisa kulit merang bata - bata candi.


Dari catatan pemerintah Kolonial Belanda, pada tahun 1684 M daerah ini hanyalah berupa rawa-rawa yang tidak berarti. Baru pada tahun 1706 M atas perintah pemerintah Kolonial Belanda, daerah ini dibersihkan dan dijadikan areal persawahan dan perkebunan. Artinya, sejak runtuhnya Komplek Percandian Kegiatan menanam padi dengan latar belakang candi Blandongan (dinding warna merah) Batujaya, daerah ini menjadi tidak berarti dan baru mendapat perhatian kembali
pada akhir abad ke-17 M.

Latar Belakang Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Komplek Percandian Batujaya
Pada awalnya masyarakat di Desa Segaran dan Desa Telagajaya, menyebut tinggalan candi yang sebagian besar terletak di tengah sawah tersebut dengan istilah unur (Hunyur) atau bukit kecil. Hal ini wajar saja, mengingat jika dilihat secara sepintas, lokasi candi tersebut hanya berupa gundukan/ bukit kecil yang ditumbuhi oleh tanaman perdu serta pohon-pohon pisang.  Dibandingkan dengan luas areal persawahan yang ada maka keberadaan unur-unur hampir tidak ada artinya.

Kehadiran komplek pemujaan Batujaya di daerah hilir Sungai Citarum sekitar pantai utara Jawa Barat tampaknya tidak lepas dari pengaruh pertumbuhan sosial ekonomi yang berkembang di daerah tersebut. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa wilayah pantai utara Jawa Barat telah menjadi wilayah perlintasan bagi pelayaran dan perdagangan internasional antara India -- Cina. Bukti arkeologi berupa temuan fragmen tembikar yang dikenal dengan tembikar arikamedu di daerah Buni, Kabupaten Karawang berasal dari abad pertama masehi - memberi indikasi kuat bahwa pada saat itu, daerah di sekitar pantai telah tumbuh permukiman-permukiman kuna yang merupakan kelanjutan dari masa prasejarah dan memberi andil dalam lintas perdagangan internasional.


Lepas dari komoditas yang ditawarkan oleh daerah ini tampaknya pada awal-awal Masehi - sebelum munculnya Kerajaan Tarumanagara - kawasan di sepanjang pantai utara Jawa Barat telah tumbuh daerah-daerah permukiman. Lalu dalam tahap yang lebih lanjut berkembang menjadi bandar-bandar pelabuhan yang berperan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan sosial ekonomi dan politik masyarakat Sunda kuna. Hal ini diperkuat dengan catatan Clodius Ptolomeus dari abad ke 2-3 Masehi yang membuat peta perjalanan dengan menyebut beberapa nama dan tempat di Indonesia terutama di dekat Selat Sunda. Sumber tertulis yang berasal dari Tome Pires (1512) menyebutkan adanya enam pelabuhan yang semuanya terletak di sepanjang pantai utara Jawa Barat. Kota-kota pelabuhan tersebut adalah Bantam, Pomdam, Cheguide, Tamgaram, Calapa dan Chemano .


Aktivitas perdagangan ini terjadi tidak hanya di tepi pantai/ bandar pelabuhan, melainkan ada pula yang membawa sampai ke daerah pedalaman melalui sungai-sungai besar seperti Sungai Citarum. Temuan arkeologi berupa keramik asing yang terdapat di sepanjang Sungai Citarum memberikan gambaran tentang aktivitas perdagangan yang terjadi pada masa lalu. Hasil analisis yang dilakukan oleh Sumarah A.(1983) terhadap temuan keramik asing menunjukkan bahwa para pedagang ini berasal dari daerah Cina, Vietnam, Thailand dan Eropa pada masa yang lebih muda. Temuan keramik Cina yang tertua berasal dari Cina Selatan sekitar abad ke-7 Masehi Di sisi lain, berdasarkan temuan sejumlah prasasti di ketahui bahwa sekitar abad ke-5 Masehi telah berdiri sebuah kerajaan yang bersifat hinduistik yakni Kerajaan Tarumanagara. Daerah Bekasi dan Karawang sering dikaitkan dengan keberadaan kerajan ini. Menurut Poerbatjaraka nama Candrabhaga yang tersebut dalam Prasasti Tugu merupakan nama sebuah sungai di India yang diberikan pada nama sungai di Jawa. Melalui kajian etimologi nama tersebut sama dengan nama Bekasi yang diduga sebagai pusat Kerajaan Tarumanagara.


Berita Cina tertua yang menyinggung tentang Kerajaan Tarumanagara dilaporakan oleh Fa-Shien tahun 414 M yang menyebutkan bahwa di Taruma (Yepoti) sedikit sekali dijumpai orang yang beragama Budha tetapi banyak ditemukan orang-orang brahmana dan mereka yang beragama kotor. Dengan demikian adanya aktifitas perdagangan internasional dan didukung oleh kehadiran Kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat dapat dipandang sebagai faktor pendorong munculnya Komplek Pemujaan Batujaya. Keberadaan komplek pemujaan ini juga dapat dipahami sebagai suatu proses penerimaan masyarakat Sunda kuna terhadap hadirnya Agama Hindu-Budha di Jawa Barat.

Beberapa Bangunan Candi di Komplek Batujaya
Kegiatan survei dan ekskavasi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan pengembangan Arkeologi Nasional (P3AN) sejak tahun 1992 sampai sekarang tahun 2006 berhasil mengidentifikasikan 31 lokasi yang diduga mengandung bangunan candi. Lokasi candi yang telah diketahui oleh penduduk, biasa disebut dengan istilah unur (gundukan) sedangkan beberapa lokasi lainnya ditemukan pada saat dilakukan survei dan penamaannya mengikut nama desa tempat tinggalan tersebut ditemukan. Beberapa bangunan candi yang menarik di
Komplek Batujaya hasil penelitian PPA sejak tahun 1992 -2006 antara lain :

1. Unur (Candi) Jiwa / Segaran I
Candi Jiwa yang dikenal sebagai Unur Jiwa, terletak di tengah areal persawahan berupa gundukan tanah yang berbentuk oval setinggi 4 meter dari permukaan tanah. Bangunan yang berukuran 19 x 19 meter dengan tinggi 4,7 meter ini tidak mempunyai tangga masuk dan di bagian permukaan atas terdapat susunan bata yang melingkar dengan garis tengah sekitar 6 meter yang diduga merupakan susunan dari bentuk stupa.

2. Unur (Candi) Blandongan / Segaran V
Candi ini memiliki bentuk bujur sangkar berukuran 24,2 x 24,2 meter. Candi bata ini bertingkat satu dengan sebuah stupa di bagian tengahnya. Pada lantai dasar terdapat empat tangga masuk pada yang berorientasi pada empat arah mata angin, yakni timurlaut, tenggara, baratdaya, dan baratlaut. Namun Candi Jiwa ini adalah merupakan sebuah stupa hanya sisi timurlaut saja yang memilki gapura pintu masuk. Masing-masing-masing tangga masuk ini memiliki pipi tangga di sisi kiri dan kanan. Beberapa anak tangganya dibuat dari batu cetakan. Profil dinding kaki candi memiliki bentuk pelipit gerigi ganda dan halround. Dari sisa lepa yang tersisa tampaknya dahulu seluruh bagian candi dilapisi oleh lepa putih.

Pada tingkat pertama terdapat halaman (selasar) yang berukuran 17,64 x 17,64 meter mengelilingi struktur bangunan yang merupakan tempat stupa di atasnya. Lantai selasar ini dilapis oleh kerikil yang dicampur dengan adonan lepa putih. Adanya sisa  andesit berdiameter sekitar 30 cm dan lubang sisa tiang di sekeliling teras pertama ini mengindikasikan bahwa dahulu pernah didirikan tiang-tiang kayu yang mengelilingi bagian stupa.

Bagian stupa pada teras teratas hanya tersisa struktur bangunan yang berdenah bujursangkar berukuran 9,2 x 9,2 meter dan runtuhan stupa yang telah dilapis oleh campuran kerikil dan stuko putih di sisi baratlaut lantai selasar . Candi Blandongan merupakan candi yang cukup besar di komplek percandian Batujaya yang kini tengah dipugar .

Beberapa bangunan candi lain yang telah diteliti adalah:
Segaran IIb, Unur Lempeng Bangunan Hunian di Segaran IId, Unur Lempeng Sisa Permukiman di Segaran IIa, Unur Lempeng


CARI ARTIKEL DAN TULISAN

Loading

SELAMAT DATANG

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More